Tragedi Pabrik Berhantu: Jam Malam (Part 1)

Hai, aku Desi. Aku asli orang Tangerang dan bekerja di salah satu pabrik lampu di kota kelahiranku. Setelah lulus SMA, aku langsung kerja di pabrik lampu, tepatnya di bagian packing alias pengepakan.

Ilustrasi Tragedi Pabrik Berhantu, Jam Malam. Foto: Pexels/Jan Senderek
Kebetulan, saat itu aku bagian shift malam. Aku berangkat dari rumah naik becak. Sore itu hujan turun dengan deras. Walau sedang hujan deras, tapi jalanan tidak sepi. Masih ada motor dan mobil yang berlalu-lalang. Ada juga orang-orang yang sedang berteduh di pos ronda dan di bawah gapura-gapura kecil yang menjadi pintu masuk ke dalam gang.

Aku melirik jam tangan yang berembun. Kuusap dengan lengan kemeja. Lima belas menit lagi aku harus absen masuk. Aku minta tukang becak untuk mempercepat lajunya. Untung saja aku datang tepat waktu saat becak berhenti di gerbang pabrik. Kubentangkan payung kecil, lalu buru-buru masuk ke dalam pabrik.

Pak Sutyo, seorang satpam menyapaku di pintu gerbang. Aku tersenyum sambil mengangguk. Kurogoh sebuah kartu absen dan memasukkannya pada mesin absen. Setelah itu, aku beranjak ke loker untuk menaruh tas, sedangkan payungku yang masih basah kubiarkan tergeletak di ruang loker. 

"Hai, Desi! Baru datang?" Herni, teman kerjaku menyapa. Ia tampaknya baru datang juga.

"Iya nih. Kehujanan."

"Sama, Des. Kamu shift malam juga ya?"

"Iya, Her. Sudah tiga hari ini kebagian shift malam terus."

"Eh ada Desi," Surya menepuk pundakku. 

"Apa sih pegang-pegang!?" jelas saja aku marah.

"Eh, maaf enggak sengaja," katanya sambil cengengesan.

Surya ini suka sama aku sudah lama. Tapi, aku tidak peduli dengannya. Kata teman-teman di pabrik, Surya orangnya nakal dan suka main perempuan. 

Tanpa menyapanya balik, aku bergegas keluar dari ruang loker. Aku mempercepat langkah menuju gedung tempatku bekerja. Semua berjalan baik-baik saja. Sampai pada jam dua belas malam, aku menyaksikan kejadian aneh. 

Di gedung itu hanya tinggal aku, Herni, dan Diana. Sementara yang lain sudah pulang duluan, kami sengaja ambil lembur biar dapat tambahan penghasilan. Tempat pengepakan barang berada di dekat mesin produksi lampu. Tapi, saat itu mesinnya sudah dimatikan. Lampu ruangan mesin juga sudah dipadamkan, hanya lampu kecil di bagian packing saja yang masih menyala.

"Kamu kalau malam begini takut enggak si, Des?" Herni membuka obrolan. 

"Takut apa sih? Palingan aku takutnya sama si Surya."

"Hahaha... iya aku juga takut lihat dia," timpal Diana. 

"Lagian dia sukanya sama si Desi. Bukan sama kamu, Diana," sergah Herni. 

"Kenapa kamu enggak terima aja tuh si Surya. Mungkin aja dia udah tobat, Des?" Diana menoleh ke arahku sambil sibuk memasukkan lampu ke dalam kardus. 

"Enggak lah. Dia bukan tipeku. Lagian dia suka main cewek."

"Iya juga sih," timpal Diana.

Di tengah obrolan, tiba-tiba terdengar suara dentang besi beradu. Kami menoleh ke belakang. Suara itu besumber dari blok mesin produksi di tengah keremangan. 

"Apaan itu?" Herni ketakutan. 

"Ah, palingan obeng jatuh," jawabku, mencoba untuk menenangkan mereka. 

Kami melanjutkan obrolan. Tapi, suara itu kembali muncul. Tak lama kemudian, mesin produksi menyala dengan sendirinya. Kedua temanku ketakutan. Kuambil senter dari dalam kantong. Perlahan kudekati blok produksi untuk memeriksa ada apa di sana.

"Desi, jangan disamperin," kedua temanku berdiri sambil ketakutan. 

Setelah aku cek, tak ada apa-apa di blok mesin produksi. Mesin pun mati dengan sendirinya. Aku menghela napas, lega.

"Nggak ada apa-apa, kok. Mungkin mesinnya eror," kataku dari kejauhan. 

Namun, saat aku balik badan. Tepat di belakang kedua temanku, berdiri sesosok kuntilanak yang sangat mengerikan. Rambutnya panjang menjuntai. Wajahnya sedikit menunduk. Meski tertutup rambutnya yang kusut, tapi ia begitu menakutkan.

Senter yang kupegang jatuh seketika.

Gelap.


Sumber : kumparan.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Halaman
1 2 3