Tragedi Pabrik Berhantu: Kesurupan (Part 2)

Aku berteriak sambil menunjuk ke belakang mereka berdua. Herni dan Diana berhambur menghampiriku. Mereka sangat ketakutan. Sementara kuntilanak itu masih berdiri di blok pengepakan.

Ilustrasi kesurupan. (Foto: YouTube/Rumah Berbatu)
Astagfirullah!” Herni memelukku ketakutan Diana tersungkur di kakiku.

Ia meringkuk sembari menutup mata. Bahkan, dia tidak sempat melihat kuntilanak itu.  

Ayo keluar!” ajakku kepada mereka. 

Enggak mau. Takut, Des!”  

Iya, Des. Itu apaan sih.” tambah Diana yang masih tersungkur.  

Aku menarik tangan Diana dan Herni. Aki menuntun mereka pelan-pelan ke pintu belakang. Selama aku bekerja, baru kali itu ada penampakan seperti itu. Pabrik tempatku bekerja memang di samping kuburan. Bahkan, kata Pak Sutyo lahan pabrik ini pun dulunya bekas kuburan.

Setelah kejadian itu, Herni dan Diana tidak masuk kerja selama tiga hari. Katanya, mereka sakit. Kalau aku, sih, tidak terlalu memikirkan penampakan itu. Bahkan, sehari setelah kejadian, aku langsung masuk kerja lagi. 

Namun, ada sebuah larangan aneh di pabrik tempatku kerja. Semua karyawan dilarang menyentuh sebuah tugu yang mirip batu nisan. Kebetulan tugu itu berada di gedung packing. Tidak ada seorang pun yang berani menyentuhnya.  

Kata karyawan lama, dulu pernah ada yang tidak sengaja menyentuh tugu. Yang terjadi setelahnya sangat tragis. Jempol si penyentuh itu terkena mesin blowing kaca hingga putus. Sehari setelah kejadian itu, ia mati secara misterius di dalam pabrik. Dokter bilang akibat serangan jantung. Tapi, para karyawan yakin kalau ia mati karena kualat tugu keramat.
  
Sebenarnya, pihak pabrik sudah mencoba untuk memusnahkan tugu itu. Tapi, tugu itu susah dicabut atau dihancurkan. Ia seolah telah mengakar ke dalam tanah.

Akhirnya pihak pabrik membiarkannya tetap berada di sana. Selama tidak ada yang menyentuhnya, maka semua akan baik-baik saja. Sebuah tralis seperti kandang kucing dipasang menutupi tugu. Ada tulisan ‘Dilarang menyentuh tugu’ yang ditempelkan pada tralis itu. 

*** 

Herni dan Diana kembali bekerja. Sebenarnya mereka masih trauma dengan penampakan itu. Terlebih si Herni yang sempat melihat langsung kuntilanak. Sambil sibuk memasukkan lampu ke dalam kardus, aku terus meyakinkan mereka agar jangan terlalu takut pada hal-hal gaib.  

Des, itu siapa?” tanya Herni sambil menunjuk ke meja baris kedua. 

Oh, namanya Mona. Karyawan baru,” jawabku.  

Ih, penampilannya menor banget, lihat deh,” Herni nyinyir.  

Iya, ih. Mau kerja kayak mau melacur gitu,” tambah Diana.

Hus! Jangan ngomong sembarangan ih,” aku memotong obrolan mereka. 

Tidak lama setelah mereka membicarakan Mona, wanita itu melirik ke arahku. Ia tersenyum sambil mengangguk pelan. Kemudian, ia beranjak keluar gedung, mungkin untuk buang air.  

"Tuh, lihat jalannya aja kayak dibuat-buat," Herni kembali nyinyir.

Aku tidak menanggapinya. Herni memang suka sekali ngomongin orang. Selang beberapa menit, kulihat Mona kembali masuk dan kembali bekerja. Dengan cekatan, ia memasukkan lampu yang sudah dikemas ke dalam kardus.  

"Des!" Herni yang berdiri di sampingku tiba-tiba berteriak. 

Ia memegangi leher, matanya melotot. Diana dan teman-teman yang lain seketika saja panik melihat kejadian itu. Herni ambruk, bola matanya berubah menjadi putih semua. Lengannya meraba-raba ,lalu meraih sebuah gunting. 

Kami sudah berusaha untuk menahan tubuhnya, tapi tidak bisa. Dengan brutal, Herni menusukkan gunting itu ke lehernya. Kami histeris. Sementara Herni tewas seketika sebelum sempat tertolong.

Sumber : kumparan.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Halaman
1 2 3