Tragedi Pabrik Berhantu: Pencurian Mayat (Part 3)

Apa yang dialami Herni sangat mengejutkan. Semenjak kematiannya, pabrik menjadi sangat mencekam, beberapa karyawan bahkan ada yang mengundurkan diri. Mereka takut mengalami kejadian yang sama seperti Herni. Aku sempat menghadiri pemakaman temanku itu, kebetulan ia dimakamkan di TPU yang bersebelahan dengan pabrik.  


Tidak banyak orang yang mengantar ke kuburan, mungkin hanya keluarga dekat saja dan karyawan pabrik lampu yang mengenal Herni. Kulihat kedua orangtua Herni menangis, mereka tidak menyangka kalau anaknya akan meninggal dengan cara yang tidak wajar. Aku merasa ada hal janggal dengan kematian temanku itu.  

Di antara orang-orang yang mengantar jenazah Herni, aku melihat Mona berdiri di belakang keluarga Herni. Dia mengenakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam. Setahuku, Herni tidak mengenal Mona. Tapi, kenapa dia begitu simpati pada Herni? Selesai pemakaman, semua orang bubar. Aku buru-buru menghampiri Mona.  

“Hai Mona,” sapaku sambil menyetarakan langkah. 

“Oh hai, kamu...?” ia seperti sedang mengingat-ingat namaku.  

“Desi, aku desi. Satu bagian sama kamu, aku juga kerja di bagian packing.”  

“Oh, iya ya. Aku ingat,” ia memperlambat langkahnya.  

“Kamu asalnya dari mana?” tanyaku.  

“Aku dari Kalimantan, Des. Kalau kamu?” 

“Aku asli Tangerang.”  

“Oya, terima kasih udah mau datang ke pemakaman temanku,” kataku basa-basi.
  
“Aku turut berduka, Des. Semoga Herni tenang di alam sana.”  

“Amin. Ngomong-ngomong kamu tinggal di mana?” 

“Aku ngontrak di dekat sini. Kapan-kapan, main saja ke kontrakanku, Des.” 

“Boleh, nanti lain waktu, ya.” 

“Aku sebenarnya bisa menebak sebab kematian Herni,” ujarnya sambil terus melangkah santai.

Aku terkejut lalu menghentikan langkah.  

“Maksudmu?” 

“Menurutku dia jadi tumbal pabrik, Des.” 

“Ja.... jadi tumbal?”  

“Iya, aku pernah kerja di pabrik kertas dan karyawannya setiap tahun mati. Ternyata dijadikan tumbal agar pabriknya tetap sejahtera dan tidak diganggu makhluk gaib.”  

Aku mengangguk, antara percaya dan tidak. 

“Tapi, itu hanya dugaanku saja sih.” 

Kami akhirnya sampai di gerbang pemakaman.  

“Mau main ke kontrakanku?” tanya Mona. 

“Oh, nggak. Lain kali saja, Mona.”  

Kami berpisah di gerbang pemakaman. Mona terus jalan kaki ke arah barat, sedangkan aku menunggu becak yang lewat. Saat sedang memperhatikan langkah Mona, seseorang menepuk pundakku.  

“Desi,” ternyata Surya. Di sampingnya ada Diana, aku tahu barusan mereka juga ikut mengantar pemakaman Herni.  

“Eh, kalian.” 

“Turut berduka ya, Des,” kata Surya.  

“Iya kita doakan saja semoga Herni tenang di alam sana,” timpalku. 

"Perasaan baru kemarin ya kita bercanda bareng Herni," kata Diana. 

"Iya, ajal memang nggak ada yang tahu, Na." 

“Oya, kamu shift apa hari ini?” tanya Diana. 

“Oh, aku malam, Na.”  

“Sama, nanti kita ketemu di pabrik ya,” Diana beranjak pergi, tinggal aku dan Surya.  

Untung saja becak segera datang. Tanpa basa-basi lagi, aku pamit ke Surya. Ia berdiri di depan gerbang kuburan sambil memperhatikan becak yang kutumpangi menjauh.
  
*** 

Malamnya, aku masuk kerja jam 7 malam bersama Diana dan teman-teman lainnya. Kami menyetelkan radio yang sedang menyiarkan lagu Ratih Purwasih ‘Antara Benci dan Rindu’ kebetulan itu lagu kesukaanku. Suasana semakin tenang saat hujan tiba-tiba saja turun dengan deras. Diana membesarkan volume radio, ternyata ia juga menyukai lagu itu.  

Saat sedang sibuk memasukkan lampu ke dalam kardus, ekor mataku menangkap sekelebat bayangan yang seperti melintas di belakangku. Kukecilkan volume radio, Diana dan teman-teman yang lain menoleh ke arahku. Mereka terlihat mulai ketakutan.  

“Ada apa, Des?”  

“Tadi kayak ada yang lewat di belakang.” 

“Ah jangan gitu, Des. Takut nih,” kata Rara. 

“Mungkin aku salah lihat,” aku tidak mau memperkeruh suasana. Kubesarkan kembali volume radio.  
Tidak lama berselang, tedengar suara menggema dari langit-langit gedung. Jelas itu suara Herni.  
“Tolong aku!” teriak Herni.  

Suara itu sangat menakutkan, kami berhambur keluar gedung untuk memanggil satpam. Saat dicek, suara itu tidak terdengar lagi. Hanya sekali teriakan, jelas sekali itu suara Herni. Dia meminta tolong. Ada apa ini? Apakah arwah Herni masih gentayangan? 

Apa yang terjadi keesokan paginya, benar-benar membuatku terkejut. Banyak orang berkumpul di kuburan Herni. Kuburan temanku itu ada yang membongkar dan mayatnya raib entah ke mana. Kedua orangtua Herni histeris melihat kejadian itu, mereka mencaci habis-habisan pengelola makam yang lalai menjaga kuburan Herni. Di pemakaman itu memang pernah terjadi pencurian mayat, kata orang-orang motifnya untuk ilmu hitam. 

Part 4

Sumber : kumparan.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Halaman
1 2 3