Disuruh Pergi dari Gubuknya, Nenek Ini Terancam Jadi Gelandangan

Beberapa hari terakhir ini Mak I’ah (70) mengaku sulit tidur.

Penyebabnya, lahan pesawahan tempat di mana gubuknya berdiri akan segera dibangun perumahan.

Mak Iah (70), janda tua asal Cianjur, Jawa Barat, tinggal di gubuk di tengah areal pesawahan dengan kondisi memprihatinkan. Ia terancam jadi gelandangan jika gubuknya digusur untuk kawasan perumahan. (KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN)

Jika kabar itu benar, praktis ia harus rela meninggalkan gubuk yang sudah delapan tahun dihuninya itu.

Kepada Kompas.com Mak I’ah bertutur, kabar tersebut ia dapat dari warga kampung.

“Ada yang bilang ke emak, katanya emak harus siap-siap pergi karena lahannya mau dibuat perumahan tahun ini,” tutur Mak I’ah, Rabu (13/5/2020). 

Kabar itu pun selalu terngiang di telinganya. Betapa tidak, buruh tani serabutan itu bingung jika harus meninggalkan tempat tinggalnya.

“Apalagi orang itu sudah dua kali datang dan bilang seperti itu,” ucapnya.

Mak I’ah tak menampik jika lahan tempat gubuknya berdiri punya orang lain. Sehingga jika lahan tersebut akan digunakan oleh pemiliknya, mau tak mau ia harus rela pergi.

“Kalau sama bu haji (pemilik lahan) dulu diizinkan tinggal di sini. Tapi kan sekarang tanahnya sudah di jual ke orang lain,” tutur dia.

Sebelum tinggal di gubuk ini, Mak I’ah sebenarnya pernah punya rumah di perkampungan tak jauh dari tempat tinggalnya sekarang. 

Namun, karena persoalan ekonomi rumah satu-satunya itu terpaksa dijual.

“Emak harus kemana atuh, apa harus ke kolong jembatan,” ucapnya lirih. 

Jadi buruh tani untuk cucu tercinta

Mak Iah (70), janda tua asal Cianjur, Jawa Barat, tinggal bersama cucunya yang berusia 5 tahun di gubuk di tengah areal pesawahan dengan kondisi memprihatinkanKOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN

Mak Iah (70), janda tua asal Cianjur, Jawa Barat, tinggal bersama cucunya yang berusia 5 tahun di gubuk di tengah areal pesawahan dengan kondisi memprihatinkan

Diberitakan sebelumnya, seorang nenek di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tinggal di gubuk reyot di tengah sawah.

Bersama cucunya yang masih berumur 5 tahun, Mak I'ah (70) mengisi hari-hari tuanya dengan berkebun.

Di waktu senggang ia mencari kayu bakar, dan sesekali membantu panen di sawah milik orang lain.

Upahnya sebagai buruh tani serabutan ia pakai untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Kalau masih ada uang sisa untuk jajan cucu tercinta.

Perempuan lanjut usia itu sudah delapan tahun menempati gubuk itu. Awalnya Mak I’ah tinggal bersama suami.

Namun, sejak suaminya meninggal tiga tahun lalu, ia kini tinggal bersama cucunya, Sania (5). 

Kondisi gubuk yang berada di areal pesawahan di Kampung Ciroyom RT 003/008, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah itu sangat memprihatinkan.

Gubuk yang terbuat dari kayu berukuran 2×4 meter persegi itu tampak sudah ringkih dan doyong ke belakang. Dinding-dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu penuh lubang.  

Tempatnya bernaung dari panas terik dan hujan itu pun tanpa penerangan listrik.

Jika malam datang dan gelap mulai menyergap, hanya cahaya kecil dari sumbu lampu cempor yang menjadi sumber penerangan satu-satunya.

Sumber: regional.kompas.com/read/2020/05/16/11300061/disuruh-pergi-dari-gubuknya-nenek-ini-terancam-jadi-gelandangan?page=all#page3

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Halaman
1 2 3