Nasib Pekerja Seks di Lembata, Ranjang Sepi Bertahan Hidup dengan Pisang Rebus

WTS yang menghuni kos-kosan di pinggiran kota Lewoleba, kini dihimpit kesulitan biaya hidup. Pelanggan tak lagi datang, ranjang sepi dan berimbas pada hilangnya pendapatan. 


Mawar (bukan nama sebenarnya,) mengaku sepinya pelanggan menguras isi dompetnya. Disaat bersamaan, dia tetap harus mengirimkan uang untuk keluarga, membayar kos, utang, hingga mencukupi urusan perut sehari-hari.

Selama pandemi Covid-19, tempat hiburan malam tempat dia bekerja tutup. Kondisi ini jelas akan menghilangkan penghasilan hariannya sebagai WTS.

“Bahkan, untuk makan sehari-hari pun kadang kami terpaksa mengkonsumsi beberapa buah pisang mentah yang direbus hanya untuk menahan rasa lapar,” ungkap Mawar sambil meneteskan air mata.

Wanita 38 kelahiran Jawa ini mengatakan, anak-anaknya yang selama ini menggantungkan hidup mereka tanpa mengetahui pekerjaannya, hanya sanggup dan pasrah memahami kondisi ini. 

Saking takut akan virus corona, WTS lainnya, Melati (bukan nama sebenarnya) menyebut, mereka bahkan menolak pelanggan, pria hidung belang yang datang. Terlepas dari pekerjaan yang mereka geluti, Melati mengatakan, Covid-19 telah menghilangkan potensi penghasilan mereka untuk membiayai hidup anak-anak yang saat ini masih menempuh pendidikan.

“Biasanya semalam bisa dapat satu atau dua pelanggan. Tetapi, akhir-akhir ini tidak ada sama sekali. Ada juga yang nekat datang, hanya kami tolak,” ungkapnya. 

Sumber: diantimur.com/2020/05/21/nasib-pekerja-seks-di-lembata-ranjang-sepi-bertahan-hidup-dengan-pisang-rebus

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Halaman
1 2 3