Kegigihan Kakek 70 Tahun di Semarang, Jualan Sate Dini Hari hingga Azan Subuh, Seporsi Boleh 5 Ribu


Pada umumnya kalau jualan seperti sate itu dilakukan pada siang hari atau mungkin sore hari hingga menjelang malam. Akan tetapi berbeda dengan kakek tua satu ini, dimana berjualannya malah dini hari.

Kalau di logika tentu ini tidak masuk dalam teori berjualan sama sekali, karena siapa juga yang hendak membeli di jam tersebut? Apalagi ketika shubuh langsung segera membereskan dagangannya.

Ini merupakan kisah pria lanjut usia atau kakek berumur 70 tahun yang berjualan sate ayam dini hari di Kota Semarang.

Bernama Suharto Sobirin, biasa dipanggil Mbah Birin.

Dengan gerobak dorong kecil yang bisa dibilang terlihat cukup tua, Sobirin biasa berjualan sate ayam di Jalan Pamularsih Raya.

Lokasi tepatnya di dekat lampu lalu lintas (traffic light) antara Jalan Simongan, Jalan Pamularsih Raya dan Jalan Pamularsih Dalam.

Penjual sate ayam di Jalan Pamularsih Kota Semarang mendorong gerobaknya pulang menuju rumahnya untuk salat subuh, Rabu (24/6/2020) dini hari. (Tribun Jateng/Reza Gustav Pradana)


Pembeli tidak akan bisa menemuinya pada siang hari lantaran waktu jualannya yang terbilang tidak biasa, yakni malam atau dini hari mulai sekitar pukul 2.00 hingga 4.00 WIB.

Ditemui Tribunjateng.com di lokasi dagangnya, Sobirin yang beralamat di RT 10 RW 3 Karangsari, Semarang Barat tersebut mengatakan bahwa ia sudah berjualan sate ayam dini hari sejak beberapa tahun lalu.

Ia tidak menyebutkan secara spesifik alasannya, namun ia tampak merasa nyaman berjualan di waktu tersebut meskipun diterpa angin malam dengan suhu udara yang menurun.

“Iya disyukuri, saya biasa mulai jualan jam dua kadang setengah tiga.

Waktu masuk subuh saya pulang kemudian menunaikan salat subuh di rumah jadi imam bersama keluarga, siangnya dipakai untuk mengaji,” ungkapnya, Rabu (24/6/2020) dini hari.

Dari jam tersebut, ia mengaku tetap ada pembeli yang datang.

Terkadang dagangannya pun habis terjual, namun ada kalanya masih tersisa.

Ia juga mengatakan bahwa istrinya sedang sakit sejak dua tahun terakhir.

“Sakitnya gula dan darah tinggi, alhamdulillah akhir-akhir ini sudah agak sehat, Ramadan kemarin kuat puasa,” imbuhnya.

Ia yang sudah berjualan sate ayam selama puluhan tahun tersebut sering kali mengatakan bahwa dirinya selalu bersyukur.

“Beberapa orang juga pernah menawari saya untuk memberikan gerobak yang baru, katanya sudah usang,” katanya.

Sobirin juga memiliki enam anak yang sudah bekerja dan sukses.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa dirinya bersyukur memiliki sejumlah cucu.

“Selama ini saya selalu bersyukur,” ungkapnya.

Sate ayam yang ia jual memiliki harga dan porsi yang bervariasi, tergantung dari permintaan pembeli.

“Biasanya 13 ribu Rupiah, tapi terserah saja, mau 5 ribu Rupiah juga boleh,” katanya.

Penjual sate ayam di Jalan Pamularsih Kota Semarang sedang membuat dan menyajikan sate ayamnya, Rabu (24/6/2020) dini hari. (Tribun Jateng/Reza Gustav Pradana)


Ketika suara adzan subuh dari masjid terdekat berkumandang dini hari ini, ia bergegas dan membereskan barang-barang dagangannya untuk disimpan ke dalam gerobaknya itu.

Ia kemudian berpamitan, mendorong gerobaknya dan berjalan menuju rumahnya.

Kisah kakek penjual sate ayam tersebut sempat diunggah oleh akun Tim Semarang Donasi, @semarangdonasi kelompok yang memiliki gerakan sosial di Kota Semarang. 

Mereka juga mencantumkan nomor rekening bagi siapapun yang akan berdonasi. (tribunjateng/rez)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Halaman
1 2 3