Orangtua Tak Punya Biaya Hadiri Wisuda, Mahasiswa Asal Papua Ini Bawa Pulang Baju Toga ke Kampung


 Merupakan sebuah perjuangan tersendiri bagi mahasiswa yang ada di luar jawa, terlebih Papua untuk menuntut ilmu agar bisa bersekolah tinggi di tanah jawa. Terlebih daerah Jakarta yang tentu memiliki sederet universitas ternama di Negeri ini, lantaran kualitasnya yang tak diragukan lagi.

Apalagi ketika sudah wisuda, tentu ini merupakan suatu yang membanggakan. Apapun rintangannya akan dilalui mahasiswa demi mendapatkan kesenangan di waktu ini. Seperti mahasiswa asal Papua berikut.

Momen wisuda merupakan salah satu momen dalam hidup yang paling membahagiakan, acara kelulusan itu bukan hanya membahagiakan diri sendiri saja melainkan juga bagi keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

Perayaan wisuda menjadi momen tak tergantikan seumur hidup, dan momen ini tentunya menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu setelah kita menempuh pendidikan selama 4 tahun disaat kuliah.

Kehadiran keluarga dan orang-orang terdekat di acara perhelatan akbar tersebut membuat rasa tersendiri bagi yang merasakannya.

Kehadiran kedua orang tua pasti sangat bahagia sekali setelah melihat sang anak menyelesaikan pendidikannya, apalagi anaknya lulus dengan predikat berprestasi.

Namun, bagaimana jika momen wisuda tersebut tidak dihadiri oleh seorang pun dari keluarga kita?

Baru-baru ini ada cerita viral dari kota yang dijuluki burung Cendrawasih, Papua, cerita itu dibagikan akun Twitter @BulbaSalim melalui jepretan layar, Selasa, (23/6/2020).

Dalam unggahannya, ia menunjukkan potret mahasiswa bernama Neas Wanimbo yang baru saja meneyelesaikan studinya di Tanri Abeng University, Jakarta.

Sepintas, tidak ada yang terlihat spesial dari foto tersebut. Hanya sebuah foto wisuda bersama keluarga.

Namun, bila ditelusur lebih jauh, foto ini menyampaikan makna yang mendalam, terlihat mereka berdiri tepat di depan rumah berlapis seng, dengan seorang pria mengenakan baju toga.

Pria yang mengenakan baju toga itu merupakan mahasiswa asal Papua, Neas Wanimbo, salah satu mahasiswa lulusan sarjana Teknik Informatika, ia telah menyelesaikan studinya pada tahun 2019 lalu.

Dalam unggahannya yang dibagikan baru-baru ini, Neas berbagi cerita tepat di hari kelulusannya, ibunya tidak dapat berhadir di acara perhelatan akbar hari wisudanya di Jakarta.

“Di hari kelulusan saya, ibu saya tidak dapat menghadiri hari wisuda di Jakarta, padahal saya adalah salah satu mahasiswa lulusan terbaik di bidang extra kurikuler, saya ingin kesakali pencapaianku ini bisa disaksikan langsung oleh orang tuaku tetapi karena tidak mampu membeli tiket penerbangan dari Wamena-Jakarta," tulis Neas Wanimbo melalui akun Linkedin miliknya.

Ia pun sengaja membawa ijazah sarjana miliknya lengkap dengan seragam toga dan semua seragam wisuda ke kampung halamannya, Papua.

Neas Wanimbo berfoto bersama keluarganya di Papua setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Tanri Abeng University, Jakarta. (Linkedin Neas Wanimbo)


Hal itu dilakukan Neas agar kedua orangtuanya mengetahui jika anaknya sudah lulus dari universitas.

“Saya yang membawa ijasa sarjana, toga dan semua seragam ke kampung, syaa ingin mereka tahu bahwa saya sudah lulus dari universitas,” ungkanya lagi.

Kabar baik yang dibawanya dari Jakarta bahwa ia telah menyelesaikan studinya dan segera merayakan dengan ibunda tercintanya.

Setibanya di Papua, Neas menyaksikan ibunya menangis haru setelah melihat anaknya membawa semua peralatan wisuda itu.

Terlebih, Neas merupkan salah satu anak berprestasi, maka tak heran, ia juga membawa segudang penobatan prestasi terhadap dirinya.

“Ibuku menangis, setelah melihat bagaimana aku membawa semua hal itu, ibuku juga merasa sangat bangga karena dia sudah mendengar bahwa aku adalah salah satu lulusan terbaik di Tanri Abeng University pada tahun 2019 dan juga dia sering dengar tentang prestasiku seajuh ini,” ungkapnya lagi.

"Ibu saya mengatakan bahwa, setiap saat dia mendukung saya dalam doa agar hal-hal buruk tidak terjadi pada saya," pungkasnya.

Neas mengatakan ibunya mengenakan pakaian terbaik yang pernah dia memiliki.

"Katanya mamaku pakaian itu dia sengaja simpan agar suatu saat ketika aku pulang ke kampung dia mau pakai untuk menjambut saya," tambahnya.

Neas berharap agar kisahnya bisa menjadi motivasi bagi orang lain untuk semangat belajar dan  bisa memberi kontribusi untuk membangun daerah.

"Semoga lewat saya punya kisah bisa memotivasi anak-anak pedamalan lainnya untuk tetap semangat belajar dan pulang bisa bangun daerah," tulisnya dalam akun Linkedin miliknya.

Hingga kini,  postingan haru dan juga menginspirasi tersebut telah disukai 22 ribu kali, dan telah diretweet lebih dari 9,5 ribu kali oleh pengguna Twitter. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Halaman
1 2 3