Usai Menjadi Korban Pelecahan, Ibu Anak Satu Justru Dibully Netizen dan Laporannya Ditolak Polisi


Setelah menjadi korban pelecehan seksual oknum pegawai koperasi pada Kamis (11/6/2020) kemarin, di Kecamatan Sungai Pinang, perempuan berinsial AP (28) rupanya justru kembali mendapat rundungan dari netizen setelah kasusnya ramai dibagikan ke platform media sosial.

Diduga, akibat perihal tersebut kerugian AP semakin bertambah. Bahkan laporannya kepada pihak kepolisan tak diterima diduga akibat postingan medsos tersebut. 

Tak patah arang, AP kemudian mendapatkan pendampingan hukum dari Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA), Kalimantan Timur, Sabtu (13/6/2020) kemarin, atas kejadian yang menimpa dirinya 

Untuk diketahui, AP menjadi korban pelecehan seksual ketika dirinya berencana hendak meminjam sejumlah uang dari pihak kreditur.

Kedatangan pelaku kala itu bertujuan untuk mengisi sejumlah data diri korban, agar uang yang akan dipinjamkan segera dicairkan. Tetapi dalam kesempatan itu, pelaku melakukan tindakan tak senonoh kepada korban. 

Namun usai bertindak sebagai pelapor di Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), AP harus menanggung cibiran yang dilakukan warganet.

Belakangan diketahui, kasus yang ia laporkan, tiba-tiba tersebar dan menjadi bahan konsumsi publik di jagat maya. 

Kabar dirinya sebagai korban tindakan mesum, seketika viral diragam kanal media sosial. Sayangnya, menurut AN, kabar yang disampaikan di sejumlah akun media sosial, berbanding terbalik dengan yang dialaminya.

Hingga membuatnya merasa sebagai korban pencemaran nama baik. Parahnya, sejumlah akun kabar media sosial memposting wajahnya dan melebih-lebihkan kronologi peristiwa yang menimpanya. 

"Saya dibully dengan dikirimin pesan, saya dibilang jual diri dengan diiming-imingi sejumlah uang. Kejadiannya tidak seperti itu," ungkap ibu beranak satu ini, Minggu (14/6/2020).

"Saya sebagai korban kenapa kok saya yang dibully," lanjutnya.

Yang membuatnya tertekan secara psikologis, ketika sejumlah warganet menuding wanita berumur 28 tahun itu sebagai wanita pekerja seks komersial (PSK) yang tak dibayar, setelah melakukan hubungan intim dengan pelaku oknum pegawai koperasi tersebut.

"Hal ini membuat saya tertekan, untuk bekerja saya malu. Mau ke mana-mana. Di sini saya menegaskan, bahwa saya mencari keadilan, saya sebagai wanita tidak mau dilecehkan," ucapnya.

Ia menegaskan, bahwa saat kejadian tersebut ia benar-benar sebagai korban asusila saat hendak ingin meminjam uang dan bukan sebagai wanita PSK. 

"Saya hanya ingin meminjam uang di koperasi, tapi netizen berasumsi bahwa saya telah melakukan hubungan intim," imbuhnya.

Lanjut AP, dirinya bahkan harus menerima kekecewaan, setelah pihak kepolisian dianggap menolak laporan dirinya sebagai korban pelecehan seksual. 

"Laporan tidak diterima, katanya karena dianggap kurang kuat buktinya. Saya hanya ingin semoga pelaku dihukum atas perbuatannya kepada saya," ungkapnya.

Sementara itu, Humas TRC PPA Korwil Kaltim, Ratnasari Tri Febriana membenarkan adanya permintaan pendampingan hukum dari korban.

Pihaknya berencana akan kembali mengantarkan korban untuk melakukan pelaporan kembali ke pihak kepolisian.

"Kita akan mendampingi korban, untuk kembali melakukan pelaporan," jelasnya.

Terkait kronologi pelaporan korban hingga berujung penolakan oleh kepolisian, perempuan yang akrab disapa Nana itu, belum mengetahui secara detil penyebabnya.

Kendati dimikian, pihaknya berencana akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

"Kita akan coba klarifikasi apa menjadi penyebab ditolaknya laporan. Jadi harus tetap ada komunikasi dulu," terangnya. 

Nana mengatakan, kini korban mengalami tekanan secara psikologis atas pelecehan seksual yang dialaminya.

Ditambah dengan beredarnya kabar yang tidak sesuai fakta, yang berseliweran di media sosial. Hal itu justru dianggap menyudutkan korban.

"Ada pandangan dan komentar netizen yang negatif terhadap korban. Sehingga terganggu lah psikologis korban karena merasa tertekan. Dia merasa malu," ucapnya.

Lanjut Nana, pihaknya sebagai pendamping korban tidak hanya fokus menangani kasus.

Namun juga lebih terhadap pendampingan psikologis. Ia menambahkan, pendampingan pelaporan korban di kepolisian akan segera dilakukan dalam waktu dekat ini. 

"Secepatnya akan kita dampingi pelaporannya, yang utama adalah komunikasi dahulu dengan pihak kepolisian," pungkasnya. (*) 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Halaman
1 2 3