Usia Boleh Tua Tapi Kakek Paeri Mampu Goyang Anak Tiri Hingga 20 Kali


Malang . Usia boleh tua bangka bau tanah , namun untuk urusan kejantanan bawah perut  si kakek Paeri (82) Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang ini masih sangat  perkasa.

Namun keperkasaan tersebut ternyata disalahgunakan kakek Paeri dengan memperkosa anak tiri Bunga (17) selama kurun waktu 2017 hingga Juni 2020.

Kakek Paeri berdalih  memperkosa korban dengan alasan kebugaran tubuh dan  ingin menyempurnakan nafkah badan.

Bahkan kakek Paeri mengatakan lebih baik dan enakan bersetubuh dengan anak tirinya daripada dengan PSK .

Kasus bermula saat kakek Paeri menikah lagi pada tahun 2016 , namun setahun kemudian istrinya terserang stroke dan tidak mampu lagi melayani urusan ranjang.

Akhirnya kakek Paeri nekat menarik Bunga kedalam kamar yang ditempati ibunya dan menggatakan ingin berhubungan badan .

Kakek Paeri mengingatkan Bunga bahwa  ibunya tidak mampu, maka dia harus  menggantikan peran ibunya.  Kakek Paeri mengatakan dari pada dia cari PSK lebih baik dengan dia saja soalnya ibunya sudah tidak bisa dipakai .

Bunga sempat menolak namun kakek Paeri  mengancam dia tidak mau mengurusi ibunya yang sakit jika Bunga tidak mau melayaninya.

Bunga yang merasa takut akhirnya dibawa ke kamar sebelah dan digoyang oleh kakek Paeri.

Kakek Paeri yang ketagihan , terhitung lebih dari 20 kali menggoyang Bunga dimana yang terakhir dia minta jatah pada 23 dan 24 Juni 2020.

Bunga yang tak tahan dengan deritanya akhirnya bercerita kepada teman sekolahnya.

Oleh temannya cerita itu disampaikan kepada orangtuanya yang meminta untuk bertemu dengan Bunga yang kemudian sampai ke telinga saudara kandung Bunga yang tinggal terpisah.

Selelah berkoordinasi dengan perangkat Desa , saudara kandung Bunga  melapor ke Polres Malang.

Kasatreskrim Polres Malang, Tiksnarto Andaru Rahutomo, mengatakan tersangka mengakui perbuatannya memperkosa anak tirinya sebanyak 20 kali dengan TKP di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

"Akibat perbuatannya, Paeri dikenakan Pasal 81 ayat (1) dan (3) junto Pasal 76D atau Pasal 72 ayat (1) dan (2) junto Pasal 76E UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak," ucapnya pada Jumat (26/6/2020).

"Ancaman hukumannya minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun," pungkas Andaru.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Halaman
1 2 3